Senin, 28 November 2016

Cerpen : Tanpa Lentera

Karya Fatmawati 

Di pagi yang dingin setelah menyuapi ibunya sarapan, Delia tiba-tiba menerima kibasan tangan yang mengarah ke wajahnya lalu ia diseret  ke dalam kamar oleh Deri. Tanpa terjamah belas kasih Deri gila-gilaan membelai tubuh Delia dan memperlakukannya seperti binatang untuk memenuhi hasrat iblisnya. Delia yang tak bisa melawan hanya bisa menangis akan perlakuan yang telah ia terima sejak lima tahun yang lalu, sejak ia berumur sepuluh tahun dan ibunya hanya bisa menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa akan penyiksaan yang dilakukan oleh Deri.
Delia adalah seorang gadis yang hanya tinggal dengan ibu dan kakaknya Deri. Ibunya lumpuh dan tunawicara akibat kecelakaan dan ayahnya telah kembali ke Pontianak. Deri kerjanya cuma mabuk dan mencopet. Sedangkan Delia sudah tidak sekolah lagi, ia hanya menjadi pengemis untuk mendapatkan uang demi ibu dan kakaknya. Ia adalah anak yang lahir dari kawin kontrak ibu dan ayahnya selama satu tahun. Sedangkan Deri adalah anak ayahnya yang lahir dari istri pertama ayahnya yang telah meninggal, sebelum ayahnya kawin kontrak dengan ibu Delia.
Keesokan harinya ketika matahari hampir di pucuk langit Delia terpikir untuk kabur dari rumah dengan membawa ibunya saat Deri keluar rumah. Ia merasa terpuruk dengan perlakuan kakaknya yang semakin hari semakin menjadi iblis kesengsaraan baginya dan bagi ibunya. Ia pun berusaha menggendong ibunya semampunya. Tidak jauh dari rumah Deri pun datang dan melihatnya serta ibunya. Deri yang setengah mabuk dengan geram langsung menyeret Delia dengan ibunya yang sudah tua ke dalam rumah dan langsung membanting Delia ke kasur.
“Bodoh, kau kira kau bisa bebas dan kabur hah!” teriak Deri sambil merobek-robek pakaian Delia yang telah kumal dan menghempaskan kepala Delia ke dinding.
 “Ampun kak, jangan lakukan ini lagi!” dengan suara semampunya ia berucap memohon karena kesakitan. Delia pun menjadi sasaran amarahnya dan Deri kembali mengoyak birahi adiknya di depan mata sang ibu yang menangis.
Sampai satu ketika terdengar kabar dari tetangga bahwa ayahnya sudah tidak tinggal di Pontianak, melainkan telah di Banjarmasin. Delia pun  berniat untuk menemui ayahnya dan ia pun berusaha mencari tahu tentang keberadaan ayahnya. Di dalam hatinya ia juga ingin memiliki kebahagian bersama keluarga sekalipun itu jauh dari nyata, meskipun tidak bisa paling tidak ia tahu tentang ayahnya dan ayahnya mengakui keberadaannya. 
Setelah mengetahui tempat tinggal ayahnya, Delia pun datang dan berpura-pura sebagai pengemis. Jangankan untuk mengenalinya sebagai anak, saat Delia memanggil saja ayahnya tidak keluar.
“Pergi, makanya kerja, dasar sampah!” ucap ayahnya dari dalam rumah dan Delia hanya terdiam atas makian yang dilontarkan ayahnya. Kegigihannya yang tinggi membuat Delia terus berusaha menemui ayahnya, namun selalu mendapat perlakuan yang sama.
Sampai dipenghujung keputusan ia pun mendatangi rumah ayahnya pada penghabisan petang untuk mengatakan yang sebenarnya. Saat mengetuk pintu rumah, keluarlah seorang wanita muda dengan pakaian terbuka.
“Maaf Mba, saya anak Ibu Masna yang menikah kontrak dengan Pak Ilham, saya ingin bertemu dengan ayah” jelas Delia dengan polos dan suara terbata-bata. Wanita muda itu terkejut dan mukanya langsung berhias amarah, dengan suara melengking ia langsung berteriak memanggil seseorang dengan panggilan agak manis namun dengan suara bagai balon tertusuk jarum. Keluarlah seorang lelaki berumur kepala empat yang tak lain ayah kandung Delia. Delia dengan mata yang telah berat menampung air mata langsung memeluk ayahnya dan mengatakan bahwa ia adalah anak dari Bu Masna. Wajah lelaki itu langsung berubah raut. Ia mencengkram tangan Delia melepaskan peluk Delia dari tubuhnya keras-keras dan menjatuhkannya, ia mengusir Delia dan menarik wanita yang di sampingnya ke dalam rumah sambil membanting pintu dengan keras.
 “Ayah aku Delia, anakmu!” teriak Delia sambil tersungkur dan menutup matanya yang lebih dari basah.
Setelah kejadian itu Delia mulai memiliki rasa benci kepada ayahnya bahkan ada dendam karena ia tahu bahwa kelumpuhan ibunya juga akibat ulah sang ayah yang dulu saat mengendarai mobil dalam keadaan mabuk bersama seorang perempuan sehingga menabrak ibunya. Ayahnya juga yang membuat kehidupan Delia dan ibunya seperti ini, bagai mati di atas bumi. Ayahnya yang menitipkan Deri kepada ibunya, Deri yang harusnya menjaga dan melindungi malah menyiksa dan membawa kesengsaraan yang tak ada akhirnya bagi mereka. Dan sekarang ayahnya malah tidak mengakui keberadaannya sebagai seorang anak.
Tiga hari setelah itu terdengar kabar bahwa ayahnya meninggal dengan menggenaskan, ia dibunuh di bawah kolong ranjang kayu tua. Kabar itu pun terdengar oleh ibunya dan besegera mengajak Delia untuk melayat dengan bahasa tulisan yang semampunya ia ditulis. Dengan berat hati Delia mengabulkan permintaan sang ibu yang sedari tadi merengek-rengek bagai bayi yang kelaparan.
Sesampainya di pemakaman orang-orang telah kembali, hanya Delia dan ibunya yang ada di sana. Ibunya menangis, mulutnya seakan berucap seribu kata yang tak Delia pahami. Delia hanya diam, jangankan untuk menangis, mendekat kepada makam ayahnya saja tidak, bahkan dengan muka sinis ia tak satu kali pun menoleh.
Sepulang dari pemakaman Delia dan ibunya langsung ke rumah, dan setelah tiba di rumah ibunya langsung tertidur pulas, mungkin karena sudah tidak terbiasa keluar untuk perjalanan jauh sekalipun menggunakan gerobak yang mereka pinjam dari tetangga dan di dorong oleh Delia dan juga lelah karena menangisi suaminya yang telah tiada. Delia yang merasa kegerahan, perlahan-lahan mengayunkan tangannya yang memegang selembar koran lusuh untuk mengais sedikit dari segarnya udara. Tak berniat untuk tidur ia pun akhirnya juga terlelap, hingga petang tiba ia baru terbangun dari alam semunya dan langsung mendatangi  kamar ibunya. Saat kakinya melangkah perlahan dengan pandangan yang masih meraba akan jelas ia tersentak  ketika melihat cairan berwarna merah yang mengalir dari depan pintu kamar ibunya. Ia pun langsung membuka pintu kamar yang agak renggang itu. Ternyata ibunya telah tergeletak dengan selimut darah dengan kaki dan tangan yang diikat. Keringat dingin mulai bergembira menyusuri pori-pori tubuhnya, emosinya mulai porak-poranda, kumpulan saraf yang mengendalikannya tak bekerja dan ia tahu siapa pembunuh ibunya.
“Hahahaha, dasar bodoh bodoh!” terdengar suara tawa seorang lelaki dari luar kamar dengan bengis. Dengan cepat Delia mengambil pisau yang tergeletak di samping kepala ibunya dan langsung menusukkannya ke jantung lelaki itu.
 “Kamu yang membunuh ayahku, maka ibu juga harus mati, dasar pembunuh bodoh!” ucap lelaki mabuk itu dalam kesakitan.
Delia pun jatuh sambil memandangi pisau yang dipegangnya penuh kebencian, amarah, kesengsaraan dengan darah sebagai balasan dan kakaknya pun telah rubuh, hilang.
***
“Braakkkkkk!”
Delia pun tersentak dengan suara bantingan pintu. Belum sempat kepalanya menoleh untuk menangkap pandangan ke arah pintu, suara Bu Ratih sebagai pemilik lokalisasi sudah menggelegar menggetarkan dasar bumi yang menyuruhnya untuk cepat mendatangi pelanggan yang sudah setengah jam menunggu.
Untuk beberapa saat Delia tak menghiraukanya, ia masih terpaku akan kejadian yang sembilan tahun telah berlalu dan tak pernah memudar dari lobus frontalnya itu. Sekarang Delia menjadi seorang wanita pemuas hasrat iblis, menjadi seorang sundal yang gelap mata akan kehidupan.

Satu Darah

Karya Fatmawati

Tersandar pada rayu paksa darah sekebat
Kau menggila koyak birahi pada sabitah tanah
Tanpa terjamah belas kasih nestapaku pun menyimpul tambatan bulir-bulir desah
Geloramu tak berkesudah mengupak sekuntum sutra dalam darah

Sudah susah
Kau taburi lagi racun bernyawa
Sudah bernanah
Kau gelugut lagi putih di mata
Hingga kuterlena dalam akal yang telah tiada
Hingga peranakanku berbelusuk
Hingga rahimku terlepas dari pertubuhan

Kuat bertopang pada gamitan isak perempuan sorgaku
Dalam kelu kekalnya aku bergelebah
Dalam pagutnya aku amuk meracau

Gilamu gila neraka
Tak cukupkah saf balur hingga tiammu mengelus nyawa membulanku

Kadang igauku menggelegak
Tanpa rengkuhan berbisik sendiri
Hingga paru berhenti tinggalkan puri

Sabtu, 26 November 2016

Tanpa Lentera

Desa di sudut pelupuk kota bertirai jambrut, bertiang cemara dengan daun yang telah keriput. Air dengan gelombang lanjut usia cukup menjadi hiasan menyelimuti desa kecil ini. Satu demi satu daun kering jatuh di tanah demikian kusut.  Angin sendalu memagut sang cemara membelai hangat daun kering dan mengantarkannya ke tempat yang bukan mereka pilih, yang hidupnya berawal dari segarnya hijau jambrut sekarang telah menjadi salah satu komposisi tanah dengan warna menua. Dan aku adalah daun yang bukan berawal dari hijau jambrut, melainkan terlahir menjadi daun kering dan jatuh sebagai daun kering bahkan berbelusuk.