Sabtu, 26 November 2016
Tanpa Lentera
Desa di sudut pelupuk kota bertirai jambrut, bertiang cemara dengan daun yang telah keriput. Air dengan gelombang lanjut usia cukup menjadi hiasan menyelimuti desa kecil ini. Satu demi satu daun kering jatuh di tanah demikian kusut. Angin sendalu memagut sang cemara membelai hangat daun kering dan mengantarkannya ke tempat yang bukan mereka pilih, yang hidupnya berawal dari segarnya hijau jambrut sekarang telah menjadi salah satu komposisi tanah dengan warna menua. Dan aku adalah daun yang bukan berawal dari hijau jambrut, melainkan terlahir menjadi daun kering dan jatuh sebagai daun kering bahkan berbelusuk.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar