Karya Fatmawati
Di pagi yang dingin
setelah menyuapi ibunya sarapan, Delia tiba-tiba menerima kibasan tangan yang
mengarah ke wajahnya lalu ia diseret ke
dalam kamar oleh Deri. Tanpa terjamah belas kasih Deri gila-gilaan membelai
tubuh Delia dan memperlakukannya seperti binatang untuk memenuhi hasrat
iblisnya. Delia yang tak bisa melawan hanya bisa menangis akan perlakuan yang
telah ia terima sejak lima tahun yang lalu, sejak ia berumur sepuluh tahun dan
ibunya hanya bisa menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa akan penyiksaan yang
dilakukan oleh Deri.
Delia adalah seorang
gadis yang hanya tinggal dengan ibu dan kakaknya Deri. Ibunya lumpuh dan tunawicara
akibat kecelakaan dan ayahnya telah kembali ke Pontianak. Deri kerjanya cuma
mabuk dan mencopet. Sedangkan Delia sudah tidak sekolah lagi, ia hanya menjadi
pengemis untuk mendapatkan uang demi ibu dan kakaknya. Ia adalah anak yang
lahir dari kawin kontrak ibu dan ayahnya selama satu tahun. Sedangkan Deri
adalah anak ayahnya yang lahir dari istri pertama ayahnya yang telah meninggal,
sebelum ayahnya kawin kontrak dengan ibu Delia.
Keesokan harinya ketika
matahari hampir di pucuk langit Delia terpikir untuk kabur dari rumah dengan
membawa ibunya saat Deri keluar rumah. Ia merasa terpuruk dengan perlakuan
kakaknya yang semakin hari semakin menjadi iblis kesengsaraan baginya dan bagi
ibunya. Ia pun berusaha menggendong ibunya semampunya. Tidak jauh dari rumah
Deri pun datang dan melihatnya serta ibunya. Deri yang setengah mabuk dengan
geram langsung menyeret Delia dengan ibunya yang sudah tua ke dalam rumah dan
langsung membanting Delia ke kasur.
“Bodoh, kau kira kau
bisa bebas dan kabur hah!” teriak Deri sambil merobek-robek pakaian Delia yang
telah kumal dan menghempaskan kepala Delia ke dinding.
“Ampun kak, jangan lakukan ini lagi!” dengan
suara semampunya ia berucap memohon karena kesakitan. Delia pun menjadi sasaran
amarahnya dan Deri kembali mengoyak birahi adiknya di depan mata sang ibu yang
menangis.
Sampai satu ketika terdengar
kabar dari tetangga bahwa ayahnya sudah tidak tinggal di Pontianak, melainkan
telah di Banjarmasin. Delia pun berniat
untuk menemui ayahnya dan ia pun berusaha mencari tahu tentang keberadaan
ayahnya. Di dalam hatinya ia juga ingin memiliki kebahagian bersama keluarga
sekalipun itu jauh dari nyata, meskipun tidak bisa paling tidak ia tahu tentang
ayahnya dan ayahnya mengakui keberadaannya.
Setelah mengetahui
tempat tinggal ayahnya, Delia pun datang dan berpura-pura sebagai pengemis.
Jangankan untuk mengenalinya sebagai anak, saat Delia memanggil saja ayahnya
tidak keluar.
“Pergi, makanya kerja,
dasar sampah!” ucap ayahnya dari dalam rumah dan Delia hanya terdiam atas makian
yang dilontarkan ayahnya. Kegigihannya yang tinggi membuat Delia terus berusaha
menemui ayahnya, namun selalu mendapat perlakuan yang sama.
Sampai dipenghujung
keputusan ia pun mendatangi rumah ayahnya pada penghabisan petang untuk
mengatakan yang sebenarnya. Saat mengetuk pintu rumah, keluarlah seorang wanita
muda dengan pakaian terbuka.
“Maaf Mba, saya anak Ibu
Masna yang menikah kontrak dengan Pak Ilham, saya ingin bertemu dengan ayah”
jelas Delia dengan polos dan suara terbata-bata. Wanita muda itu terkejut dan
mukanya langsung berhias amarah, dengan suara melengking ia langsung berteriak
memanggil seseorang dengan panggilan agak manis namun dengan suara bagai balon
tertusuk jarum. Keluarlah seorang lelaki berumur kepala empat yang tak lain
ayah kandung Delia. Delia dengan mata yang telah berat menampung air mata
langsung memeluk ayahnya dan mengatakan bahwa ia adalah anak dari Bu Masna.
Wajah lelaki itu langsung berubah raut. Ia mencengkram tangan Delia melepaskan
peluk Delia dari tubuhnya keras-keras dan menjatuhkannya, ia mengusir Delia dan
menarik wanita yang di sampingnya ke dalam rumah sambil membanting pintu dengan
keras.
“Ayah aku Delia, anakmu!” teriak Delia sambil tersungkur
dan menutup matanya yang lebih dari basah.
Setelah kejadian itu
Delia mulai memiliki rasa benci kepada ayahnya bahkan ada dendam karena ia tahu
bahwa kelumpuhan ibunya juga akibat ulah sang ayah yang dulu saat mengendarai
mobil dalam keadaan mabuk bersama seorang perempuan sehingga menabrak ibunya.
Ayahnya juga yang membuat kehidupan Delia dan ibunya seperti ini, bagai mati di
atas bumi. Ayahnya yang menitipkan Deri kepada ibunya, Deri yang harusnya
menjaga dan melindungi malah menyiksa dan membawa kesengsaraan yang tak ada
akhirnya bagi mereka. Dan sekarang ayahnya malah tidak mengakui keberadaannya
sebagai seorang anak.
Tiga hari setelah itu
terdengar kabar bahwa ayahnya meninggal dengan menggenaskan, ia dibunuh di bawah
kolong ranjang kayu tua. Kabar itu pun terdengar oleh ibunya dan besegera
mengajak Delia untuk melayat dengan bahasa tulisan yang semampunya ia ditulis. Dengan
berat hati Delia mengabulkan permintaan sang ibu yang sedari tadi
merengek-rengek bagai bayi yang kelaparan.
Sesampainya di
pemakaman orang-orang telah kembali, hanya Delia dan ibunya yang ada di sana.
Ibunya menangis, mulutnya seakan berucap seribu kata yang tak Delia pahami.
Delia hanya diam, jangankan untuk menangis, mendekat kepada makam ayahnya saja
tidak, bahkan dengan muka sinis ia tak satu kali pun menoleh.
Sepulang dari pemakaman
Delia dan ibunya langsung ke rumah, dan setelah tiba di rumah ibunya langsung
tertidur pulas, mungkin karena sudah tidak terbiasa keluar untuk perjalanan
jauh sekalipun menggunakan gerobak yang mereka pinjam dari tetangga dan di
dorong oleh Delia dan juga lelah karena menangisi suaminya yang telah tiada.
Delia yang merasa kegerahan, perlahan-lahan mengayunkan tangannya yang memegang
selembar koran lusuh untuk mengais sedikit dari segarnya udara. Tak berniat
untuk tidur ia pun akhirnya juga terlelap, hingga petang tiba ia baru terbangun
dari alam semunya dan langsung mendatangi kamar ibunya. Saat kakinya melangkah perlahan
dengan pandangan yang masih meraba akan jelas ia tersentak ketika melihat cairan berwarna merah yang
mengalir dari depan pintu kamar ibunya. Ia pun langsung membuka pintu kamar
yang agak renggang itu. Ternyata ibunya telah tergeletak dengan selimut darah
dengan kaki dan tangan yang diikat. Keringat dingin mulai bergembira menyusuri
pori-pori tubuhnya, emosinya mulai porak-poranda, kumpulan saraf yang
mengendalikannya tak bekerja dan ia tahu siapa pembunuh ibunya.
“Hahahaha, dasar bodoh
bodoh!” terdengar suara tawa seorang lelaki dari luar kamar dengan bengis. Dengan
cepat Delia mengambil pisau yang tergeletak di samping kepala ibunya dan langsung
menusukkannya ke jantung lelaki itu.
“Kamu yang membunuh ayahku, maka ibu juga
harus mati, dasar pembunuh bodoh!” ucap lelaki mabuk itu dalam kesakitan.
Delia pun jatuh sambil
memandangi pisau yang dipegangnya penuh kebencian, amarah, kesengsaraan dengan
darah sebagai balasan dan kakaknya pun telah rubuh, hilang.
***
“Braakkkkkk!”
Delia pun tersentak
dengan suara bantingan pintu. Belum sempat kepalanya menoleh untuk menangkap
pandangan ke arah pintu, suara Bu Ratih sebagai pemilik lokalisasi sudah menggelegar
menggetarkan dasar bumi yang menyuruhnya untuk cepat mendatangi pelanggan yang
sudah setengah jam menunggu.
Untuk beberapa saat
Delia tak menghiraukanya, ia masih terpaku akan kejadian yang sembilan tahun
telah berlalu dan tak pernah memudar dari lobus frontalnya itu. Sekarang Delia
menjadi seorang wanita pemuas hasrat iblis, menjadi seorang sundal yang gelap
mata akan kehidupan.